Makalah Komunikasi Antar Pribadi dan Kelompok



MEMAHAMI PENTINGNYA MENDENGAR (LISTENING) DALAM KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Komunikasi Antar Pribadi dan Kelompok
Dosen Pengampu: Nilnan Ni’mah, M.S.I
Disusun Oleh:
Ikrima  Hasni Marfu’ah           (1401016009)
Dhiajeng Auliana Artarini       (1401016010)
Melinda Dwi Rahayu              (1401016075)


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2017
I.                   PENDAHULUAN
Komunikasi memang merupakan kunci terpenting dalam membangun suatu hubungan baik antar setiap individu. Melalui komunikasi secara lisan atau tertulis diharapkan orang dapat memahami apa yang disampaikan oleh pengirim pesan dengan baik. Penyampaian suatu pesan secara lisan maupun tertulis memiliki suatu harapan bahwa seseorang akan dapat membaca atau mendengar apa yang dikatakan dengan baik dan benar. Komunikasi yang efektif sangat bergantung pada ketrampilan seseorang dalam mengirim maupun menerima pesan. 
Masalah yang paling sederhana dan sering muncul itu di karenakan adalah kurangnya  keterampilan mendengarkan dalam berkomunikasi. Keterampilan mendengarkan seharusnya mengiringi keterampilan bertanya dalam komunikasi yang efektif. Karena sebaik apa pun komunikasi terhadap seseorang tanpa diiringi dengan kemampuan mendengar maka komunikasi tidak efektif. Komunikasi efektif adalah suatu kegiatan pengiriman makna (pesan) dari seorang individu ke individu yang lain di mana kegiatan tersebut dapat menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak. Komunikasi efektif dipandang sebagai suatu hal yang penting dan kompleks. Dianggap penting karena ragam dinamika kehidupan terjadi biasanya menghadirkan situasi kritis yang perlu penanganan secara tepat, munculnya kecenderungan untuk tergantung pada teknologi komunikasi, serta beragam kepentingan yang ikut muncul.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.                Apa pengertian mendengar (Listening) dalam komunikasi antar pribadi ?
B.                 Apa pentingnya mendengar (Listening) dalam komunikasi antar pribadi ?
C.                 Bagaimana Peran Gender dan Budaya dalam mendengar (Listening) ?
D.                Apa Jenis-jenis mendengar (Listening) style dalam Komunikasi Antar Pribadi ?
E.                 Bagaimana proses mendengar (Listening) dalam Komunikasi Antar Pribadi ?

III.             PEMBAHASAN

A.    Pengertian listening dalam komunikasi antar pribadi
Kegiatan mendengarkan tidak jarang dipahami secara samar, bahkan tidak jarang dianggap sebagai kegiatan pasif dalam proses komunikasi. Menurut Devito (2013) kegiatan mendengarkan dapat diartikan sebagai suatu proses aktif dari menerima rangsangan (stimulus) pada telinga (aural). Mendengarkan merupakan tindakan tidak terjadi begitu saja tanpa kesadaran melainkan harus dengan sengaja dilakukan. Mendengarkan menuntut energi dan komitmen terutama dalam komunikasi interpersonal. Oleh karena itu perlu diperjelas dengan membedakan antara kegiatan mendengar (hearing) dan mendengarkan (listening).
Mendengar merupakan suatu proses fisiologis sementara mendengarkan menyangkut penerimaan rangsangan. Pengertian menerima di sini menegaskan bahwa seseorang dalam aktivitas mendengarkan itu berarti menyerap rangsangan yang diterima lalu kemudian memprosesnya dengan cara tertentu. Setidaknya selama beberapa waktu, isyarat yang diterima itu ditahan dan mengalami proses. Sejalan dengan ini Janasz (2009) mengemukakan bahwa untuk memperoleh pesan yang utuh dari pengirim pesan atau sumber, penerima pesan harus melakukan kegiatan mendengarkan dengan menggunakan panca indera secara tepat. Karena itu dalam mendengarkan secara aktif, perlu diperhatikan tiga dimensi yaitu penginderaan, pengolahan/evaluasi dan memberi respon.
Dalam penginderaan, proses mendengarkan artinya memperhatikan kata-kata dari isi pesan yang mau disampaikan dan juga sekaligus menerima tanda-tanda nonverbal seperti bahasa tubuh, ekspresi wajah dan semacamnya. Dalam dimensi pengolahan/evaluasi proses mendengarkan melibatkan aktivitas mengerti makna yang disampaikan, menafsirkan makna, mengevaluasi bahasa nonverbal serta mengingat pesan yang disampaikan. Sementara dimensi respon berarti pendengar
memberi signal verbal dan nonverbal kepada pengirim pesan atas apa yang telah didengarnya.
Dengan demikian keterampilan mendengarkan bukan merupakan aktivitas pasif melainkan aktif. Menjadi pendengar yang aktif bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai. Namun menjadi pendengar aktif merupakan hal yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam berbagai kepentingan di pekerjaan.[1]

B.     Pentingnya Listening dalam Komunikasi Antar Pribadi
Pertama, menjauhkan diri dari kesulitan. Dengan menjadi pendengar yang baik, seseorang cenderung lebih teliti memerhatikan petunjuk, saran, peringatan sehingga terhindar dari kesulitan atau masalah akibat kelalaian yang sebenarnya tidak perlu terjadi. 
Kedua, menerima banyak informasi, menambah wawasan. Banyak hal yang terjadi di sekitar kita. Semakin banyak kita mendengar  dan memahami suatu kejadian. Kita semakin profesional karena kita belajar dari pengalaman. Semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin luas wawasan kita.
Ketiga, membuat kita lebih bijaksana. Mendengarkan bukan hanya meningkatkan kecerdasan seseorang, melainkan juga membuat seseorang lebih bijak. Dengan banyak mendengarkan seseorang memiliki informasi lebih banyak dari orang lain. Dalam mengambil tindakan dan keputusan, mereka selalu berdasarkan informasi yang baik dan tepat yang pernah mereka dengar.
Keempat, membantu memahami orang lain. Salah satu cara memahami orang lain adalah dengan mendengarkan apa yang dia bicarakan mengenai suatu masalah. Dengan mendengarkan pembicaraannya, kita bisa memahami bagaimana cara berfikirnya. Dengan mengetahui cara berfikirnya, maka kita bisa mengetahui bagaimana seharusnya kita bertindak, bersikap dan memposisikan diri. 
Kelima, mendukung keberhasilan dalam bernegosiasi. Dua kunci untuk memperoleh apa yang kita inginkan dari orang lain adalah mengetahui apa yang ingin mereka berikan dan apa yang perlu dilakukan untuk membuat mereka memberikan lebih banyak lagi. Satu-satunya cara untuk mengetahui hal itu adalah mendengarkan, mendengarkan dan mendengarkan.
Keenam, mengurangi rasa marah dan curiga terhadap orang lain. Tanggapan awal terbaik terhadap emosi dilakukan oleh telinga anda. Bila kita mendengarkan seseorang yang sedang marah, kita akan mengetahui sebab kemarahannya. Kemudian kita memperlihatkan empati, dan menyediakan ventilasi yang akhirnya membuat orang tersebut menjadi lebih rasional. Sangatlah bodoh untuk berusaha mengetahui dasar kemarahan seseorang sebelum kita dapat memahaminya, berempati kepadanya, dan meredakan kemarahannya. 
Ketujuh, meningkatkan kualitas cinta dalam hidup.  Salah satu ungkapan rasa cinta yang paling meyakinkan adalah dengan mendengarkan. Seseorang merasa dihargai dan dipedulikan ketika kita menaruh perhatian dan mendengarkan apa yang mereka ungkapkan.
Jadi dari beberapa penjelasan di atas, maka sangatlah jelas bahwa “mendengar” merupakan hal penting dan  salah satu faktor penentu keefektifan dalam proses komunikasi.[2]

C.    Peran Gender dan Budaya dalam Listening
Mendengarkan adalah pekerjaan yang tidak mudah karena banyak latar yang berbeda dalam system komunikasio antara komunikator dan pendengarnya. Masing – masing individu memiliki pengalaman yang berbeda, yang berarti membedakan pula cara berkomunikasi dari masing – masing individu. Ketika komonikator dan komunikan berasal dari budaya yang berbeda, atau berbeda dalam hal jenis kelamin, maka reaksi alami yang terjadi akan sangat menonjol.

Budaya dan Mendengarkan
Ketika berada dalam budaya yang berbeda perlu diperhatikan bahasa, cara berkomunikasi secara nonverbal, style, sejarah dengan realita, kepercayaan, dan feedback.
1.      Suara dan Bahasa. Apabila komunikator dan komunikan berbicara dalam bahasa yang sama, pembicaraan belum tentu satu makna dan sama logatnya. Tidak ada dua orang yang berkomunikasi yang benar – benar sama dalam berbagai hal karena masing – masing individu memilki pengalaman dan latar belakang yang berbeda – beda.
2.      Perbedaan Peilaku Nonverbal. Komunikator dan komunikan yang berasal dari budaya yang berbeda memiliki norma - norma yang berbeda. Perilaku nonverbal akan selaras dengan norma budaya yang mengikat. Jika perbedan yang ada sangat mencolok dan sangat jauh dari dasar pesan yang disampaikan, kita harus melihatnya sebagai adanya pengaruh orang lain atau mungkin dianggap sebagai pesan yang kontradiktif.
3.      Kepercayaan. Kepercayaan atau keyakinan seseorang akan berbeda dari satu budaya dengan budaya yang lainnya. Misalnya: di beberapa kebudayaan, pendidikan dianggap sangat penting, dan memilih guru yang berkualitas secara intelektual bagi anak – anak mereka adalah sebuah keharusan. Tapi di budaya yang berbeda ada klaim bahwa guru yang cocok adalah yang bermoral dan agamis. Perbedaan ini adalah bentuk adanya ragam budaya yang harus dipelajari untuk memudahkan kita berkomunikasi atau memahami segala bentuk pesan yang disampaikan oleh komunikator dengan latar sosio budaya yang berbeda.

Jenis Kelamin dan Mendengarkan
Laki – laki dan perempuan memilki tipe mendengarkan yang berbeda, juga dengan bahasa verbal maupun nonverbal yang berbeda. Perempuan umumnya membangun sebuah hubungan dan menetapkan sebuah pertemanan kemudian saling berkomunikasi dengan menjadi pendengar setia hingga akhir pembicaraan. Sedangkan laki – laki hanya menunjukkan keahlian, menekanken hal – hal yang dimaksud, dan mendominasi sebuah komunikasi.
Laki – laki dan perempuan menunjukkan cara mendengarkan yang berbeda. Perempuan ketika mendengarkan biasanya memberikan respon langsung ketika sedang terjadi komunikasi dengan berkata “ya” atau “hu-uh” menganggung setuju atau tersenyum. Sedangkan laki – laki lebih sering mendengarkan dengan diam, tanpa memberikan isyarat apaun sebagai bentuk feedback. Perempuan berusaha menunjukkan dirinya sebagai seorang pendengar, sedangkan laki – laki hanya menggunakan isyarat bahwa ia mendengarkan.
Namun, tidak ada bukti yang mengatakan bahwa perbedaan antara kedua jenis kelamin tersebut memilki arti atau motif tersendiri. Dengan sikap dan feedbac yang berbeda sekalipun tetap memberikan arti yang sama dalam [3]komunikasi, sehingga terjadinya komunikasi tetap efektif.
D.    Jenis-jenis Listening style dalam Komunikasi Antar Pribadi
1.      Mendengarkan isi (content listening) adalah memahami dan menguasai pesan pembicara. Mendengarkan isi pembicaraan, penekanannya adalah pada informasi dan pemahaman anda dapat mengajukan beberapa pertanyaan untuk memperjelas materi. Anda coba abaikan gaya pembicaraan dan keterbatasan apa pun dalam menyampaikannya, fokuskan hanya pada informasinya.
2.      Mendengarkan dengan kritis (critical listening) adalah memahami dan mengevaluasi arti pesan pembicara pada beberapa tingkat: logika argument, bukti yang kuat, kesimpulan yang valid, implikasi pesan untuk anda dan organisasi anda, maksud dan motif pembicara, dan setiap informasi atau poin relevan yang dihilangkan. Bila anda ragu, ajukan pertanyaan untuk menyelidiki sudut pandang dan kredibilitas pembicara. Perhatikan pembicara yang mungkin mewarnai cara informasi yang disampaikan, dan berhati-hatilah untuk selalu memisahkan antara opini dan fakta.
3.      Mendengarkan dengan empati (emphatic listening) adalah memahami perasaan, kebutuhan, dan keinginan pembicara sehingga anda dapat menghargai sudut pandangnya, terlepas dari apakah anda mempunyai perspektif yang sama dengannya.[4]
E.     Proses mendengar (Listening) dalam Komunikasi Antar Pribadi
1.      Menerima
Mendengarkan diawali dengan menerima pesan dari pengirim pesan (komunikator). pesan tersebut bisa verbal, maupun nonverbal yang terdiri dari bahasa  isyarat, ekspresi wajah, dan keragaman dalam intonasi. Di bagian ini, kita tidak hanya mencatat pesan baik verbal maupun nonverbal yang disampaikan oleh komunikator, tetapi juga hal – hal yang berhubungan dengan komunikator, misalnya latar belakang dan karakter komunikator. Dalam menerima pesan diberlukan adanya:
a.       Perhatian penuh kepada pengirim pesan, hal apa saja yang disampaikan, maupun yang tidak disampaikan.
b.      Lingkungan yang memadai atau sesuai.
c.       Perhatian penuh kepada pengirim pesan sehingga apa yang akan kita sampaikan selanjutnya sesuai dengan topic bahasan.
d.      Pengutamaan komunikan sebagai pendengar dan hindari interupsi.

2.      Memahami
Adalah bagian dimana komunikan berusaha mengerti dan mendalami apa yang disampaikan komunikator, baik pikiran maupun intonasi penyampaian pesan yang mewakili emosi.
Dalam memahami, perlu adanya:
a.       Menghubungkan informasi terbaru dari komunikator dengan apa yang terjadi saat ini di lapangan (fakta).
b.      Memahami pesan komunikator dari inti pesan yang disampaikan. Hindari menyimpulkan pesan sebelum komunikator selesai menyampaikan seluruh pesannya.
c.       Pertanyaan untuk menklarifikasi. Jika memungkinkan, tanyakan contoh real (nyata) dari penjelasan atau pesan yang disampaikan komunikator.
d.      Mengubah kalimat komunikator menjadi kalimat sendiri yang lebih mudah dipahami.

3.      Mengingat
Dalam mendengarkan diperlukan adanya ingatan, untuk mengingat pesan yang telah disampaikan. Ingatan berguna dalam melakukan komunikasi agar yang disampaikan sesuai, tidak keliru, maupun rancu. Ingatan misalnya untuk mengingat nomor telepon, alamat rumah, nama, janji temu, atau arah.
Dalam mengingat perlu adanya:
a.       Identifikasi sumber ide dan referensi yang mendukung
b.      Ringkasan pesan yang mudah  diingat. Namun perlu kehati – hatian dalam meringkas, jangan sampai menghilangkan detail/inti pesan atau bagian – bagian lain yang penting.
c.       Pengulangan nama dan kata kunci untuk mengingatkan diri sendiri, bila memungkinkan, dengan suara yang keras.

4.      Mengevaluasi
Evaluasi terdiri dari pengambilan kesimpulan. Kadang - kadang kita mencoba mengevaluasi niat atau motif dari komunikator. Seringkali evaluasi ini terjadi dalam keadaan tidak sadar atau muncul secara alami dalam bentuk kritik atau analisis. Evaluasi merupakan upaya untuk menyamakan pesan dengan realita dan fakta yang terjadi.
Dalam mengevaluasi, cobalah untuk:
a.       Memberikan evaluasi ketika telah benar – benar memahami inti pesan yang disampaikan.
b.      Asumsikan komunikator sebagai orang yang berniat baik dan berikan pula sikap baik ketika meminta klarifikasi tentang hal – hal yang ingin kita ketahui lebih detail.
c.       Bedakan fakta dari kesimpulan, opini, dan interpretasi dari individu komunikator.
d.      Temukan segala bentuk kecurigaan, hal – hal yang menarik, atau anggapan yang membuat komunikator terkesan tidak fair terhadap apa yang disampaikan.
5.      Merespon
Merespon terdiri dari dua macam. Yang pertama adalah respon yang diberikan ketika komunikator sedang menyampaikan pesan. Dan yang kedua adalah respon yang diberikan setelah menyampaikan keseluruhan pesan. Respon merupakan feedback, dimana komunikan mengirimkan kembali pesan kepada komunikator. Informasi yang dikirim kembali adalah respon mengenai perasaan dan pikiran tentang pesan yang telah disampaikan. Respon merupakan salah satu bukti yang diinginkan komunikator bahwa pesannya telahj sampai dan didengarkan.
Dalam merespon, cobalah untuk:
a.       Berikan feedback yang sesuai dengan isi pesan. Berikan kesan bahwa kita mendengarkan dengan memberi respon yang singkat sekalipun. Ini akan membuat kita tidak hanya menjadi pendengar melainkan juga pengendali komunikasi tersebut.
b.      Berikan ekspresi yang mendukung
c.       Berusaha jujur, karena yang diinginkan komunikator adalah ekspresi dan feedback yang apa adanya.
d.      Ketika memberikan respon, usahakan respon adalah segala bentuk feedback yang keluar dari diri sendiri, bukan respon yang ideal.[5]






     







IV.             KESIMPULAN
Mendengar merupakan suatu proses fisiologis sementara mendengarkan menyangkut penerimaan rangsangan. Pengertian menerima di sini menegaskan bahwa seseorang dalam aktivitas mendengarkan itu berarti menyerap rangsangan yang diterima lalu kemudian memprosesnya dengan cara tertentu. Setidaknya selama beberapa waktu, isyarat yang diterima itu ditahan dan mengalami proses. Sejalan dengan ini Janasz (2009) mengemukakan bahwa untuk memperoleh pesan yang utuh dari pengirim pesan atau sumber, penerima pesan harus melakukan kegiatan mendengarkan dengan menggunakan panca indera secara tepat. Karena itu dalam mendengarkan secara aktif, perlu diperhatikan tiga dimensi yaitu penginderaan, pengolahan/evaluasi dan memberi respon.


[1] Deddy Mulyana. Ilmu Komunikasi suatu Pengantar. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2000) hlm: 31-33
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESEP MARTABAK COKLAT MINI

Makalah Filsafat Dakwah